Violin : Un-Expected Situation



     Pukul 02.02 siang, kuputuskan kembali ke daerah perpustakaan tadi. Ternyata tadinya tempat itu sangat ramai, kini berubah 180’ menjadi tempat yang sangat sunyi layaknya seperti perpustakaan biasanya. Tak terlihat ada seorang pun di tempat ini, bahkan seekor semut pun tak terdengar pijakan kakinya. Tempat seperti inilah yang ku nanti nanti, mentari siang tak membakar ,terhalang oleh awan bagaikan kapas putih dilangit, angin berhembus secara halus, sehingga rumput rumput seakan menari nari kecil olehnya. “Alhamdulillah …” ucapku bersyukur kepada Allah karena masih bisa diberikan waktu untuk menikmati semua nikmat yang diberikan-Nya.

     Memang, nikmat yang diberikan oleh Allah SWT tidak akan habis termakan waktu, tinggal kita yang memilih bagaimana kita memanfaatkan , akan kah kita menggunakan nikmat tersebut untuk hal positif atau hal negatif, semua itu tergantung hak setiap manusia. Dan kita hanya tinggal dengan melaksanakan seluruh kewajiban yang Allah berikan.
                                                                         
                                                                        . . . . . . . . . . .

     Tak terasa pukul 04.13 sore, bel sekolah pun berbunyi dan menandakan berakhirlah semua kegiatan belajar mengajar ditempat ini, namun hari ini semua itu terasa sangat berbeda. Ada beberapa hal yang membuat hari Selasa ini berbeda, Ya salah satunya gara gara rapat guru tadi, yang menghabiskan waktu hingga akhir jam pelajaran. Dan aku sedikit kesal, karena banyak pelajaran yang ingin aku santap dihari ini, namun terbuang begitu saja. Memang, saya pun salah tidak memanfaatkan waktu kosong tersebut untuk belajar, tapi  apa daya? Jika tak ada yang mengajar lantas apa Ilmu yang akan di dapat? Belajar sendiri? Ya itu mungkin salah satu caranya. Namun karena semua materi pelajaran dijadwal hari ini merupakan suatu yang baru, tak ada yang mengerti materinya, kami membutuhkan pengajar yang berpengalaman dalam hal ini.
 

     Terlihat dari jam 03.50 tadi ruangan kelas sudah mulai kosong, terlihat banyak kursi tak berpenghuni sebuah ransel. Hanya tinggal beberapa, ada 4 ransel masih tersimpan dimasing masing bangku kelas. Namun tidak terlihat ransel sahabatku Pradipta diantara mereka, mungkin dia telah pergi sejak jam 2 tadi, hal ini sudah biasa terjadi, jika rapat guru selama berjam jam tak kunjung selesai, para siswa akan pulang dengan sendirinya, terkecuali guru nya memberikan sebuah tugas kepada kami. Namun nampaknya tidak ada tugas yang diberikan oleh para guru karena materinya asing bagi kami.
Tak seling beberapa menit, kelas sudah sangat kosong, hanya tertinggal 2 ransel yang masih terdiam termasuk ransel ku. “Siapa yang belum pulang jam segini?-_-“ gumam ku. Kalau aku belum pulang karena masih betah disekolah, karena biasanya pun aku pulang pukul 5 sore menghabiskan komik/ novel yang aku pinjam di toko buku. Namun karena sore ini terlihat sedikit gelap, terhalang awan hitam yang menandakan akan hujan deras, mau tidak mau aku harus pulang secepatnya.

“Dek udah keluar, kelasnya mau dikunci.. Lagian pulang dek udah sore, mau hujan lagi tuh…. Kayanya mau hujan gede ini mah… “ ucap pak Rustle penjaga sekolah kami.

“Iya pak, sebentar mau beresin buku buku dulu…” ucapku sambil membereskan komik yang berserakan.

“Iya sip, sekalian tuh sama  tas itu bawa. Yang siapa dek? Ga biasanya ada seorang siswi belum pulang jam segini…. “

“Kurang tau pak, nanti saya bawa sekalian aja pak, dan kembaliin ke orangnya ya pak….” Ucapku Sambil membawa ransel asing tersebut.

“Assalamu’alaikum pak duluan… “ ucapku ke pak Rustle sambil berpamitan.

“Iya silahkan… cepet pulan dek, mau hujan gede tuh… “ ucap pak Rustle sambil mengunci pintu kelas.


     Pak Rustle adalah penjaga sekolah kami, beliau sangat ramah kepada semua orang, termasuk kepada siswa siswi disini, ya salah satunya aku (Rendy). Beliau sangat ramah kepadaku, dan aku sangat menghormatinya seperti layaknya seorang guru. Dia selalu membantuku ketika mengerjakan suatu karya Ilmiah, khususnya karya Ilmiah fisika untuk membuat alat peraga.


     Kini tinggal tugasku yang terakhir, yaitu mengembalikan ransel asing yang kubawa dari kelas ke pemiliknya. Dilihat dari modelnya, sudah kupastikan ransel ini adalah milik seorang siswi, tapi siapa ? Tidak biasanya ada seorang siswi belum pulang disini. Sambil mencari pemiliknya, aku lewati sebuah lorong sekolah, lorong itu sedikit menakutkan karena sedikit penerangan disini, tiba tiba aku mendengar suatu music Violin (Biola) dilorong tersebut , hal ini sedikit membuatku gempar dan ketakutan, dengan cuaca seperti ini, penerangan mulai memudar, angin yang berhembus kencang, membuat pohon pohon bergerak tak beraturan, ditambah suara music Violin yang ntah dari mana asalnya.


     Dan sialnya baru ku ingat, bahwa dibalik dinding lorong tersebut adalah sebuah ruangan, tepatnya ruangan Aula, yang biasa digunakan untuk berlatih paduan suara maupun alat musik. Rasa ketakutan ku pun mulai menghilang semenjak mengingat hal itu. Kulewati lorong tersebut dengan tegap layaknya seorang prajurit yang tak takut apa apa. -__-


     Tiba lah ku di depan pintu Aula, dan sudah aku duga. Ada seseorang diruangan ini yang memainkan alat music Violin. Kuputuskan masuk ke ruangan terebut dengan diam diam, dan mengintip siapa yang bermain music dengan begitu Indah dan mulus layaknya pemain Violin yang sudah ahli. Setelah ku intip, ternyata pemain Violin tersebut adalah seorang siswi baru yang baru pindah 2 bulan yang lalu, terlihat dari wajahnya yang tidak asing bagiku. Anehnya, setiap ku lihat wajahnya, aku mengingat sesuatu namun ntah apa itu, sulit bagiku seorang Rendy untuk mengingat sesuatu terkecuali tentang pelajaran. Bahkan aku bisa saja lupa wajah sahabatku sendiri, namun semenjak melihat siswi baru tersebut, sangat mudah mengingat wajahnya dan selalu teringat akan sesuatu, seolah olah aku pernah menemuinya dan akrab dengannya, namun ntah dimana kapan dan mengapa, mungkin inilah yang disebut “De ja vu” itu. Lalu kuputuskan untuk menemuinya dan mengembalikan ranselnya yang sedikit berat.

“Hey…. Um.. Ini tas mu kan? Saya kesini mau ngembaliin ini.. “

“Oo iya, aku sampe lupa dengan tas ku… Maaf ya sudah merepotkan, hihihi… “

“Tidak apa apa.. Siswi kelas XI.6 kan? Inget sama saya gak? Hehe…”

“Tentu saja, kamu Rendy kan? Master fisika.. Suka ngabisin soal soal Pak Sammy.. sehingga aku gak kebagian soalnya… -__-“

“hehe bisa aja kamu ini, tapi saya tidak master kok, saya siswa biasa seperti yang lain.. “

“Laah.. Jangan suka merendah gitu.. Master tetaplah master… yaa.. Tapi makasih udah nganterin tas aku ya… “

“Iya sama sama, kalau begitu silahkan lanjut latihan Biola nya, saya tidak akan mengganggu…. “

     Tiba tiba hujan mengguyur begitu deras , bagaikan sebuah ember besar yang sengaja ditumpahkan dari atas langit, terdengar juga suara butiran butiran es berjatuhan dari langit, syukurlah hujan kali ini tidak disertai petir dan kilat seperti biasa. Namun kali ini hanya disertai kumpulan bongkahan es batu bervolume rata rata 8 cm3 yang membuat suatu irama bunyi pada atap ruangan Aulanya. Dan menghalangkan niat ku untuk pulang secepatnya, terjebak lah kami berdua di ruangan Aula tersebut.
                                                                     
                                                                        . . . . . . . . . . . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar