Namaku
Aprilia Atmadja, teman-teman memanggilku April. Aku mempunyai teman dekat
lelaki yang bernama Okta. Aku bingung... kami tidak memiliki hubungan spesial
tetapi kami saling mengikat. Malam itu, handphoneku berdering. Ada satu pesan masuk
yang isinya seperti ini :
Keesokan harinya aku menjalani hari seperti biasa disekolah dan pada saat pulang sekolah, aku bertemu dengan Okta.
Hari ini, tepatnya hari Sabtu tanggal 22 September 2012, pada waktu istirahat aku dan Okta bertemu ditaman sekolah. Seperti kebiasaan kami. Setiap tanggal 22, aku akan membawakannya jus alpukat dan dia membawakanku jus strawberry.
Akhirnya aku dan Okta kembali dekat seperti dulu. Awalnya, sikap Okta sangat manis, tetapi semakin sini ia kembali kesikapnya dahulu, seenaknya. Sebelum aku putus dengan Yoga, dia pernah berjanji bahwa ia akan menjadi kekasihku. Dan saat itu tiba...
Aku tau ini tidak akan berlangsung lama, aku tau ini akan terjadi...Okta berubah kembali menjadi Okta yang seenaknya. Rasanya aku ingin sekali pergi tetapi hatiku menahan karena aku terlalu mencintainya. Kami masih melakukan kebiassan kami, bertukar jus di tanggal 22. Seperti biasa kita bercerita panjang lebar tetapi aku tidak memberi taunya bahawa seminggu lagi aku akan pindah dari sini, aku akan ikut orang tuaku ke Yogya. Aku sedih, tetapi bila melihat Okta sedih, aku tak mau. Sehari sebelum berangkat ke yogya, aku mengajaknya bertemu, Okta mengiyakan ajakanku. Aku menunggu disekolah. Satu jam berlalu, dia belum datang juga. Aku tetap menunggu. Setelah hari mulai senja, aku memutuskan untuk pulang kerumah. Perasaanku kacau, aku kecewa sekali.
Dirumah aku menulis surat untuk Okta.
Keesokan harinya,sebelum berangkat aku menitipkan suratku pada teman dan menyuruhnya untuk diberikan kepada Okta. Mungkin ini jalan terbaik untuk aku dan Okta. Meskipun nanti jarak ku dengannya berjauhan, aku akan terus mengingatnya dan menyayanginya...
Okta
Hei Pril, besok kita main ya, ditunggu jam 1 disekolah
ok, aku tunggu
Aku tersenyum membaca pesan itu, lalu aku membalasa
pesannya dan mengiyakan ajakannya.
Rasanya...aku tidak sabar menunggu hari esok.
Keesokan harinya aku menjalani hari seperti biasa disekolah dan pada saat pulang sekolah, aku bertemu dengan Okta.
“ Pril, hari ini gajadi, aku mesti pergi ke Yogya. Terserah
kamu mau marah atau ngga,” Diapun pergi begitu saja. Aku terhenyak. Dalam hati
aku mengutuk, dasar gila. Entah harus marah atau tidak. Dia bukan siapa
siapaku, dan aku bukan siapa siapa untuknya. Terkadang aku sangat membenci
sikap egois dan seenaknya yang ia miliki. Hubungan kami bukan sekedar teman
dekat biasa. Terkadang aku merasa bahwa ia adalah kekasihku, itu karena dia
selalu memberi perhatian lebih, dapat meluangkan waktu untukku dan ia baik
padaku. Tapi dalam kenyataannya dia bukan kekasihku. Aku menyayanginya dan aku
tau dia pun begitu. Sampai saat ini aku tidak mengetahui alasannya mengapa dia
tidak memberikan kepastian dalam hubungan kami. Aku pikir, dia memang nyaman
dengan keadaan kamu yang seperti ini.
Hari ini, tepatnya hari Sabtu tanggal 22 September 2012, pada waktu istirahat aku dan Okta bertemu ditaman sekolah. Seperti kebiasaan kami. Setiap tanggal 22, aku akan membawakannya jus alpukat dan dia membawakanku jus strawberry.
“ Pril, duduk disini aja ya. Disini teduh,” ucap Okta.
“ Ok deh,” Jawabku.
Aku sangat menyukai saat saat bersamanya. Bersama
Okta, aku bisa menjadi diriku sendiri dan aku nyaman bersamanya. Kami
membicarakan segalanya, bercerita tanpa ada yang ditutup-tutupi dan tiba –tiba sepatah kata tercurahkan dari bibir manisnya
“ Pril, selamat tanggal 22 ya. Makasih jus
alpuketnya,”
“ Iya, makasih juga ya setiap tanggal 22 kamu selalu
bareng aku dan ngasih jus strawberry,” Jawabku.
Hening. Kami berdua terdiam beberapa saat.
“Okta, hubungan kita sebenarnya apa? Aku sayang sama
kamu dari dulu.
Okta tercengang.
“ Pril , aku juga sayang kamu. Please jangan bahas
ini,”
“Tapi aku butuh kepastian. Aku ga bisa kalo kita gini
terus,” kataku sambil terisak.
“ Aku gabisa ngasih kepastian, kalo kamu ga terima,
kamu boleh pergi,” jawab Okta ringan.
“ Kamu yakin?”
“ Ya, aku yakin. Maafkan aku Pril,” jawabnya.
Aku berlari menuju kelasku. Tangisku meledak.
Rasanya...sakit. Teman-teman dikelas bertanya-tanya mengapa aku menangis. Dalam
hati, aku ingin segera pulang sekarang juga.
Kumulai
lembaran baru , tanpa Okta. Hari-hariku terasa hampa, dan biasa saja. Tapi aku
harus melanjutkan hidupku. Kini aku sudah memiliki kekasih yang bernama Yoga.
Aku berusaha menahan rinduku pada Okta dan mencoba mencintai Yoga. Sudah
beberapa bulan aku tak mengetahui kabar Okta, aku rindu dia. Saat aku mulai
mencintai Yoga, Okta kembali datang kepadaku. Aku mencoba menghindar, tetapi
dia tetap mendekatiku sampai pada akhirnya hubunganku dengan Yoga terhenti. Karena aku
terlalu mencintai Okta, aku melepas Yoga.
Akhirnya aku dan Okta kembali dekat seperti dulu. Awalnya, sikap Okta sangat manis, tetapi semakin sini ia kembali kesikapnya dahulu, seenaknya. Sebelum aku putus dengan Yoga, dia pernah berjanji bahwa ia akan menjadi kekasihku. Dan saat itu tiba...
“ Pril, kamu mau jadi pacar aku?” tanya Okta.
Aku kaget luar biasa. Perasaanku detik hanya satu,
senang. Aku tersenyum dan mengangguk. Dia pun tersenyum dan memelukku.
“ Aku sayang kamu,Pril,” Okta berbisik.
“Aku pun,” Jawabku.
Aku tau ini tidak akan berlangsung lama, aku tau ini akan terjadi...Okta berubah kembali menjadi Okta yang seenaknya. Rasanya aku ingin sekali pergi tetapi hatiku menahan karena aku terlalu mencintainya. Kami masih melakukan kebiassan kami, bertukar jus di tanggal 22. Seperti biasa kita bercerita panjang lebar tetapi aku tidak memberi taunya bahawa seminggu lagi aku akan pindah dari sini, aku akan ikut orang tuaku ke Yogya. Aku sedih, tetapi bila melihat Okta sedih, aku tak mau. Sehari sebelum berangkat ke yogya, aku mengajaknya bertemu, Okta mengiyakan ajakanku. Aku menunggu disekolah. Satu jam berlalu, dia belum datang juga. Aku tetap menunggu. Setelah hari mulai senja, aku memutuskan untuk pulang kerumah. Perasaanku kacau, aku kecewa sekali.
Dirumah aku menulis surat untuk Okta.
“ Aku pikir kita harus mengakhiri hubungan ini. Aku
gakuat sama sikap kamu. Tapi aku tetap sayang sama kamu. Oh iya, terimakasih
untuk semuanya, terimakasih sudah menemani hari-hariku. Aku tidak pernah
menyesal pernah mencintaimu, malahan aku bersyukur karena kamu bisa membuatku
lebih bahagia dan jadi wanita kuat. Maaf dan terimakasih untuk segalannya.
I love you, goodbye.”
Aprilia Atmadja
Keesokan harinya,sebelum berangkat aku menitipkan suratku pada teman dan menyuruhnya untuk diberikan kepada Okta. Mungkin ini jalan terbaik untuk aku dan Okta. Meskipun nanti jarak ku dengannya berjauhan, aku akan terus mengingatnya dan menyayanginya...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar